Sunday, July 03, 2016

Apa sih Au Pair? Nanny atau TKW ?

Banyak yang bilang kalau Au Pair itu adalah Nanny atau malah saat membaca penjelasan mengenai Au Pair di internet banyak yang menganggap bahwa Au Pair sama saja dengan TKW alias Tenaga Kerja Indonesia. Dulu waktu saya jadi Au Pair banyak yang bertanya bagaimana saya bisa ke Belanda. Apakah saya sekolah? Atau saya kerja? Agak bingung untuk menjelaskan apa yang saya lakukan supaya orang tidak salah mengerti bahwa saya disana hanya sekedar menjadi nanny atau menjadi pembantu rumah tangga. Sebanyak apapun saya menjelaskan bahwa Au Pair bukanlah nanny atau tenaga kerja Indonesia atau pembantu rumah tangga seperti di Timur Tengah, tetap saja mereka tidak mengerti. Jadi dulu saya lebih memilih untuk tidak menjawab pertanyaan mereka. Atau saya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang ingin mereka dengar "saya disini jadi nanny atau saya di Belanda mbabu". Dan mereka tidak akan bertanya lebih jauh.

Sekarang saat saya mengelola Deandra Aupairs, perwakilan Au Pair agency di Indonesia, pertanyaan yang sama terdengar. Sama dengan dulu, sekarang saya juga banyak mendapat pernyataan skeptis saat saya berusaha menjelaskan seperti "terus apa bedanya dengan baby sitter dong". Kadang saat saya menjawab pertanyaan lewat media sosial saya agak senewen. Karena biasa saya tidak akan berhasil meyakinkan mereka bahwa ini tu bukan cuma sekedar jadi baby sitter. Tapi kalau ketemu langsung,  baru mereka akan lebih mudah menerima penjelasan saya.

Sekarang saya akan mencoba menjelaskan apa itu Au Pair versi saya ya. Berdasarkan pengalaman saya bukan berdasarkan kamus. Sekarang saat ada yang bertanya apakah Au Pair itu sama seperti baby sitter saya tidak akan menyangkal. Au Pair itu pekerjaannya ya memang menjaga anak-anak. Trus kalau ada yang bilang Au Pair itu kan sama dengan asisten rumah tangga, saya juga tidak akan menyangkal. Ya memang salah satu tugas Au Pair ya harus mau untuk membantu pekerjaan rumah di rumah host family. Trus kenapa waktu itu saya mau jadi Au Pair ? Karena saya pikir jadi Au Pair adalah cara termudah untuk saya ke luar negeri. Coba ya berapa banyak uang yang saya butuhkan untuk bisa tinggal di Belanda selama satu tahun. Berapa banyak tabungan dalam rekening saya supaya saya bisa dapat visa. Belom mikirin masalah asuransi perjalanan, sponsor dll. Waktu itu saya sudah berpikir untuk mencari beasiswa, Tapi saya merasa saya nggak pinter-pinter amat. Pekerjaan full time saya di Jakarta membuat saya butuh banyak waktu untuk mengumpulkan aplikasi beasiswa. Sementara saat saya Au Pair semua dokumen sudah diurus, sponsor sudah ada, tiket pesawat sudah dibelikan, asuransi sudah dipersiapkan oleh host.

Waktu saya memutuskan untuk ikut program Au Pair, saya tidak begitu menyukai anak-anak. Saya bingung juga bagaimana caranya menghadapi anak-anak. Kalau mereka nangis saya harus gimana nanti saya mau main apa sama mereka. Tapi ya namanya sudah niat, ya bagaimana caranya saya bisa melalui itu. Saya mah pede-pede aja saat itu. Saya jadi sering nonton nany 911, mencari ilmu bagaimana cara menghadapi anak-anak. Kegiatan apa saja yang bisa saya lakukan dengan mereka. Agak susah awalnya untuk saya bisa dekat dengan anak-anak. Anak yang paling kecil terutama nggak mau maen sama saya untuk beberapa lama. Tapi dari yang saya pelajari kalau kita betul-betul sayang sama mereka, mereka akan lebih mudah akrab dengan kita. Tapi kalau kita menganggap mereka nakal, menyebalkan, sudah diatur ya begitulah mereka nanti terhadap kita. Jadi akan lebih mudah kalau kita betul-betul tulus sayang sama mereka. Disana saya juga melakukan pekerjaan rumah sehari-hari. Sama aja sih kayak di rumah. Host family waktu itu tidak punya jadwal dan tidak meminta saya untuk melakukan pekerjaan rumah sebetulnya. Mereka sudah punya cleaning lady. Tapi cleaning lady biasanya datang hanya seminggu sekali. Karena saya pikir saya punya waktu luang jadi saya juga ikutan beberes rumah. Host family saya waktu itu mencuci baju semua orang rumah termasuk baju saya, jadi saya menawarkan diri untuk menyetrika baju. Saya sih melakukan itu dengan suka hati, saya tidak merasa kalau saya jadi pembantu. Saya menganggap diri saya bagian dari keluarga (geer). Karena mereka juga menganggap saya bagian dari keluarga.

Mungkin karena saya happy disana, saya bisa dengan mudahnya dekat dengan host dad dan host mom saya. Karena host dad saya lebih sering dirumah, saya biasanya lebih sering ngobrol dengan host dad saya. Saya bisa cerita apa saja. Dari host dad saya saya belajar untuk mengutarakan pendapat saya. Kalau saya diberi 2 pilihan, saya akan dengan mudahnya memilih. Tidak seperti di Indonesia, biasanya saya akan susah memilih karena merasa tidak enak atau biasanya saya memikirkan perasaan orang lain terlebih dahulu. Di Belanda saya belajar untuk mengutarakan hal yang saya suka dan saya ingin lakukan dan mengatakan hal yang tidak suka atau tidak ingin saya lakukan. Misalnya saya diajakin pergi, kalau saya enggak mau ya saya bilang nggak saya nggak ikut karena mau pergi ke tempat lain. Atau saat host dad minta saya membersihkan sesuatu, kalau itu bukan kerjaan au pair dan saya pas nggak bisa ya saya bilang kalau nggak bisa. Kesannya mudah kan. Tapi susah saat kita ngerasa nggak enak. Kan kita disana udah dibayarin masak kita nolak sih. Tapi ya memang begitulah kalau dengan orang Belanda. Kalau suka bilang suka, kalau nggak suka bilang nggak suka. Kalau alasannya jelas mereka akan mengerti. Menurut saya hal ini adalah hal penting yang saya pelajari yang belom tentu seorang baby sitter pelajari.

Tidak semua Au Pair mengalami apa yang saya alami. Selama menjadi perwakilan agency saya mempelajari bahwa ternyata saya ini termasuk tipe orang yang sangat flexible. Saya merasa kalau saya diminta untuk melakukan sesuatu yang bukan pekerjaan Au Pair sebetulnya tapi saya bisa melakukannya, saya akan lakukan. Saya juga tidak merasa terpaksa. Tapi ada tipe orang yang berbeda. Ada yang sangat mengikuti aturan, seperti misalnya membersihkan mobil itu tidak termasuk dalam jadwal atau bukan merupakan pekerjaan ringan. Jadi mereka tidak mau melakukan itu sebetulnya. Biasanya saya akan menjelaskan bahwa kalau kamu merasa bahwa pekerjaan yang host family minta adalah pekerjaan berat yang bukan merupakan pekerjaan Au Pair, nggak pa-pa untuk bilang "tidak saya tidak bisa melakukan itu" dan jelaskan apa alasannya. Host family akan mengerti. Biasanya kalau Au Pair terus melakukan semua yang diminta tanpa protes, host fam akan berpikir mereka baik-baik saja. Dan tidak ada yang salah dengan permintaan itu. Kalau ternyata terjadi masalah jangan ragu-ragu untuk menghubungi agency. Agency yang baik pasti akan mencarikan solusi dan menjadi perantara antara host family dan au pair.

Sempat ada Au Pair yang tidak cerita ke saya mengenai masalah mereka karena bingung harus mulai cerita dari mana. Dan karena tau bahwa saat saya jadi Au Pair saya hampir selalu mengerjakan semua hal dari mulai masak, antar jemput anak sampai beberes rumah membuat mereka berpikir kalau mereka cerita ke saya, saya akan menganggap mereka malas. Nggak gitu juga. Saya melakukan itu karena saya mau, tapi kalau kalian nggak mau ngelakuin itu dan kalian punya alasan yang jelas silahkan menolak. Saya juga nggak selalu mengiyakan permintaan host, tapi selama disana saya belajar untuk menolak permintaan mereka dengan argumentasi yang jelas sampai mereka mengerti. Rata-rata dari Au Pair kan sudah lulus universitas, cara berpikir kita pasti berbeda dari baby sitter di Tanah air. Jadi pulang dari Au Pair kita harus semakin kaya pengalaman dan mental harus semakin kuat. KIta harus curi ilmu mereka.  Au Pair bukan pekerjaan, ini cuma salah satu stepping stone untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Jadi jangan pernah malu untuk menjadi Au Pair.