Tuesday, March 22, 2011

Pencarian Kapal Dewa Ruci





Bulan Agustus tahun lalu dari tanggal 19-23 ada event besar di Amsterdam bernama Sail Amsterdam 2010. Ini event 5 tahunan sekali dimana tall ships dari berbagai negara di dunia berkumpul di Pelabuhan Amsterdam. Sail Amsterdam pertama dilaksanakan di tahun 1975 dan sejak itu dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Jadi beruntung sekali saya bisa menyaksikan acara ini. Pengunjung boleh naik ke atas kapal mulai dari jam 10 pagi sampai jam 4 sore, gratis, tidak perlu bayar. Tapi ya itu, ngantrinya panjang buangettt serasa sedang mengantri sembako.

Tahun ini Sail Amsterdam 2010 diikuti oleh sekitar 30an negara di dunia. Terbayang kan betapa banyaknya. Ditambah boat dan yacht pribadi milik pengunjung yang ingin menyaksikan kapal-kapal tersebut dari dekat, membuat dermaga Amsterdam bagaikan lautan kapal. Kapal-kapal tersebut bersandar di Pelabuhan Amsterdam di antara Java Island and Piet Heinkade. Kapal-kapal yang berlabuh adalah kapal replika dari jaman dahulu kala. Kalau kata saya sih, kapal-kapal itu replika kapal jaman penjajahan Belanda dulu. Kapal-kapal tua yang besar dan megah dengan ukiran di setiap sudutnya dan tiang-tiang layar yang tinggi menjulang. Nah salah satu kapal yang mengikuti event Sail Amsterdam 2010 ini adalah kapal Dewa Ruci dari Indonesia.

Sebetulnya saya sudah penasaran ingin melihat acara ini mulai dari bulan Juli saat kapal-kapal tersebut berlabuh di Anwerpen, Belgia. Teman saya bercerita kalau kapal Indonesia paling bagus, kru kapalnya yang ramah dan banyak senyum menjadi favourite pengunjung selama acara tersebut berlangsung. Jadi saat saya melihat berita di televisi Belanda yang memperlihatkan gambar kapal Dewa Ruci dengan kru kapalnya sedang menari di tiang-tiang layarnya, saya semakin ingin melihat kapal tersebut dari dekat. Rasa nasionalisme saya langsung muncul begitu melihat betapa gagahnya kapal tersebut. Ditambah lagi saat gambar meperlihatkan para kru kapal Dewa Ruci sedang menari poco-poco bersama para pengunjung. Bagaimanapun caranya saya harus melihat kapal itu dari dekat. Walaupun sebenarnya bukan kapalnya yang ingin saya lihat, tapi suasana Indonesianya yang ingin saya rasakan.

Akhirnya hari Sabtu saya mengajak teman saya dari Peru untuk datang ke acara ini. Ya ampun nggak nyangka deh pengunjung yang datang akan sebanyak itu. Saking banyaknya sampai kami harus berjalan berimpit-impitan dengan pengunjung lain. Dari awal saya tidak peduli dengan kapal yang lain, saya hanya ingin melihat kapal Dewa Ruci dari Indonesia saja titik. Yah walaupun kami tidak melewatkan foto-foto di depan kapal-kapal megah dari negara lain. Tapi dimana ya kapal Dewa Ruci? Dari jauh saya sudah bisa melihat bendera merah putih yang sangat besar berkibar. Tapi posisinya sepertinya di seberang. Akhirnya saya mengajak Nati, teman saya untuk berjalan di sepanjang dermaga sambil terus melihat dimana posisi bendera merah putih. Tapi sampai hampir di ujung dermaga kami tetap tidak menemukan kapal Dewa Ruci. Karena saya lihat Nati sudah bosan mengikuti saya mencari kapal yang tidak jelas dimana letaknya, akhirnya saya putuskan untuk pulang dan besok mencari sendiri kapal tersebut. Tidak enaknya mengajak teman yang bukan dari Indonesia memang begitu, tidak punya rasa nasionalisme untuk mencari kapal Dewa Ruci sampai dapat.

Jadi hari minggunya dengan semangat membara saya kembali ke lokasi Sail Amsterdam 2010 untuk mencari kapal Dewa Ruci. Kali ini saya bertanya pada petugas yang ada, dimana kapal Dewa Ruci tersebut bersandar. Ternyata sebelum masuk ke lokasi pameran, petugas membuka stan informasi bagi pengunjung. Mereka juga membagi-bagikan peta lokasi seluruh peserta Sail Amsterdam. Bodohnya saya kenapa tidak dari kemarin ya saya bertanya dan meminta petanya. Walaupun begitu manfaatnya adalah kemarin saya pasti sudah membakar cukup banyak kalori karena seharian berjalan kaki.

Nah setelah bertanya ke petugas baru saya tahu kalau lokasi kapal Dewa Ruci ada di bagian Java Island, di dermaga seberang. Yang artinya saya harus berjalan mengelilingi dermaga sampai ke bagian seberang. Sudah terbayang betapa jauhnya. Tapi demi rasa nasionalisme dan demi melihat kapal dari negara sendiri saya rela. Saya mulai berjalan dari pukul 1 siang. Susah sekali mau berjalan cepat dalam lautan pengunjung sebanyak itu, terlalu banyak orang. Menurut informasi pengunjung yang datang ke Sail Amsterdam 2010 ini mencapai jumlah 120 ribu orang.

Karena takut kapal Dewa Ruci sudah tutup untuk pengunjung saat saya sampai disana, saya langsung berjalan menuju lokasi kapal Dewa Ruci, sambil sekali-sekali mengambil foto kapal-kapal yang saya lewati. Saya tidak berniat untuk naik ke kapal yang lain untuk melihat-lihat. Melihat panjang antriannya saja sudah membuat saya pusing. Sampai di ujung dermaga saya masih belum menemukan kapal Dewa Ruci. Sembunyi dimana ya kapal itu? Akhirnya saya tetap berjalan menyusuri sepanjang dermaga sampai ke dermaga yang ada di sisi seberang. Tapi sampai ke dermaga yang ada di sisi seberang, tetap saya tidak melihat kelebatan bendera merah putih.

Akhirnya saya melihat satu kapal besar yang amat sangat bagus yang saya pikir Dewa Ruci. Saya sudah senang karena saya pikir perjalanan sudah berakhir, jadi saya bisa duduk leyeh-leyeh. Tapi ternyata bukan itu kapalnya, yang saya lihat itu adalah kapal dari Amerika Latin. Jadi dengan kecewa saya berjalan lagi sampai akhirnya saya melihat kelibatan bendera merah putih. Leganya saya, akhirnya ketemu juga. Tapi perjalanan belum berakhir karena ternyata kapal itu ada di dermaga di sisi lain lagi yang harus ditempuh dengan menggunakan kapal feri. Dan sialnya untuk naik ke kapal yang akan membawa saya ke seberang, saya masih harus menunggu selama 30 menit. Tapi semua letih, lapar, haus dan kesal saya rasanya terbayar saat saya melihat bendera merah putih berkibar dari dekat. Rasanya ingin sekali saya hormat bendera sambil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya kemudian saya langsung terbang pulang ke Indonesia.

Sampai di kapal saya melihat banyak orang berkumpul di depan kapal. Kapalnya kok tidak sebagus yang saya pikir ya. Waktu saya mencari jalan naik ke kapal, saya diberi tahu oleh petugas di depan kapal bahwa kapal sudah tertutup bagi pengunjung karena ada diplomat yang sedang berkunjung. Kapal akan dibuka kembali pada pukul 7.30 malam. Sial kedua yang saya alami, saya menghabiskan waktu tiga jam berjalan mencari kapal Dewa Ruci, dan setelah ketemu saya tetap tidak bisa naik ke kapal. Walau begitu saya tetap berpikir bahwa saya harus masuk ke dalam kapal dan melihat seperti apa bagian dalam kapal. Saya bertanya pada petugas apakah ada cara agar saya bisa sampai dengan cepat ke kapal Dewa Ruci tanpa saya harus berjalan keliling dermaga. Mereka memberi tahu bahwa saya dapat menyeberang dengan kapal feri yang sudah tersedia dari depan central stasion Amsterdam, gratis tis tanpa harus bayar. Yak, malu bertanya sesat di jalan. Saya menghabiskan waktu saya dengan sia-sia. Jadi pulangnya saya naik feri sudah disediakan oleh panitia penyelenggara dan pergi ke perpustakaan Amsterdam sambil menunggu pukul 7 saat kapal sudah dibuka kembali untuk umum.

Pukul 6 sore saya keluar dari perpustakaan, pertama saya pergi membeli makan malam, kemudian pukul 7 malam baru saya menuju ke dermaga untuk naik kapal feri yang sudah disediakan. Pukul 7.30 malam saya sudah sampai di depan kapal Dewa Ruci. Disana terlihat sudah semakin banyak orang berkumpul untuk naik ke kapal. Hampir semua pengunjung berasal dari Indonesia dan rata-rata berbahasa Jawa. Saya jadi merasa tidak sedang di negeri Belanda tapi di tanah Jawa bernuansa Eropa. Saat saya tanya sesorang disana kapan kapal akan dibuka, bapak-bapak yang saya tanya itu menjawab "Sudah dibuka mbak tapi katanya yang bisa naik ke kapal hanya yang mendapat undangan". Jadi akhir perjalanan saya menuju kapal Dewa Ruci selama hampir 5 jam, berakhir dengan sia-sia. Dalam perjalanan pulang saya masih mendengar suara keluhan “Nggak di Indonesia, nggak di luar negeri kok masih suka ngecewain rakyatnya sih. Kalau memang nggak boleh masuk mbok bilang dari tadi. Kemarin pas kesini juga malah pada pergi ke Den Haag. Sudah disempet-sempetin kesini jauh-jauh eh tetep nggak boleh masuk ”. Grrrr...